• Breaking News

    Sunday, January 18, 2026

    Krisis Suriah Bakal Terhenti di Kota Hasakah?


    Ketegangan di Suriah timur laut kembali menguat seiring mandeknya negosiasi antara Damaskus dan Syrian Democratic Forces (SDF). Di balik meja perundingan yang rapuh, muncul skenario bahwa jika dialog benar-benar runtuh, pasukan Damaskus dapat melanjutkan ekspansinya hingga mencapai Hasakah, menyisakan hanya Qamishli sebagai kantong terakhir kekuasaan SDF.

    Skenario ini tidak muncul dari ruang hampa. Dalam beberapa bulan terakhir, dinamika lapangan menunjukkan pergeseran yang signifikan, terutama di wilayah timur Sungai Efrat. Deir Ezzour menjadi titik awal perubahan, ketika sejumlah besar suku Arab secara terbuka memberontak terhadap SDF dan menyatakan dukungan kepada Damaskus.

    Suku-suku besar seperti Aqeedat dan Baggara memainkan peran penting dalam eskalasi tersebut. Sejak 2023 hingga 2025, ketegangan antara struktur militer SDF dan elite suku Arab terus meningkat, dipicu oleh kontrol sumber daya minyak dan gas serta tuduhan diskriminasi dalam administrasi lokal.

    Penangkapan tokoh berpengaruh seperti Abu Khawla menjadi pemicu ledakan. Aksi tersebut dipandang sebagai penghinaan langsung terhadap martabat suku, mendorong mobilisasi bersenjata yang dengan cepat meluas ke pedesaan Deir Ezzour.

    Pemerintah Presiden Ahmed Al Sharaa telah mengeluarkan peraturan perlindungan hak Kurdi sebagaimana yang diminta nakun SDF menganggap itu belum cukup dan menolak meletakkan senjata dan bergabung dengan Kementerian Pertahanan Suriah.

    Hingga saat ini pasukan pemerintah sudah memasuki Tabqa setelah sebelumnya Deir Hafer dan Syeikh Maqsod. Pasukan suku juga mulai menguasai beberapa desa di Deir Ezzour.

    Keberhasilan suku-suku ini menguasai wilayah pedesaan di Deir Ezzour mengubah keseimbangan kekuatan. SDF kehilangan kendali efektif di sejumlah area, sementara Damaskus kembali memperoleh pijakan strategis di timur Suriah.

    Dampaknya mulai terasa hingga ke Raqqa. Kemaren kota ini menyaksikan gelombang demonstrasi, dengan tuntutan ekonomi dan politik yang secara tidak langsung melemahkan legitimasi SDF. Meski belum bermuara pada pemberontakan bersenjata besar, situasi ini menambah tekanan psikologis dan politik.

    Berbeda dengan Deir Ezzour dan Raqqa, struktur sosial di Hasakah lebih kompleks. Di Provinsi Hasakah, khususnya Qamishli merupakan benteng SDF dan kota Hasakah diyakini akan menjadi titik perluasan terakhir pasukan pemerintah.

    SDF memanfaatkan struktur ini dengan membangun kontrol militer dan administratif yang relatif kuat. Banyak anggota suku Arab terintegrasi ke dalam dewan militer lokal SDF, menciptakan ketergantungan ekonomi dan keamanan yang tidak mudah diputus.

    Kondisi ini membuat dukungan terbuka kepada Damaskus di Hasakah dan Raqqa belum muncul secara masif. Tidak ada insiden tunggal yang cukup besar untuk memicu pemberontakan luas seperti yang terjadi di Deir Ezzour.

    Selain itu, kehadiran Amerika Serikat masih menjadi faktor penahan. Selama dukungan militer dan politik Washington terhadap SDF belum sepenuhnya berakhir, banyak aktor lokal memilih bersikap menunggu daripada mengambil risiko berpindah kubu.

    Namun, ketegangan internal di tubuh suku-suku Arab tetap nyata. Penangkapan tokoh yang dicurigai pro-Damaskus oleh SDF memperdalam rasa tidak percaya, sekaligus memperkuat perpecahan internal antara faksi pro-SDF, pro-Damaskus, dan kelompok netral.

    Di Deir Ezzour, akses langsung Damaskus dari seberang Sungai Efrat memungkinkan dukungan cepat dan konkret. Faktor geografis ini tidak dimiliki Damaskus di Hasakah dan Raqqa, menjadikan ekspansi ke wilayah tersebut diperkirakan jauh lebih rumit.

    Meski demikian, kegagalan total negosiasi dapat mengubah kalkulasi. Jika Damaskus memilih opsi militer penuh, tekanan terhadap struktur SDF di Raqqa dan Hasakah diperkirakan meningkat tajam.

    Dalam skenario tersebut, Hasakah berpotensi menjadi target berikutnya setelah Deir Ezzour. Penguasaan pedesaan oleh suku-suku Arab dapat membuka koridor bagi pasukan Damaskus untuk bergerak lebih jauh ke utara.

    Qamishli, dengan konsentrasi pasukan SDF, kemungkinan menjadi benteng terakhir sebelum kesepakatan menjadi pilihan pertama. Kota ini juga memiliki sensitivitas regional yang lebih tinggi karena kedekatannya dengan Turki dan Irak.

    Situasi ini menempatkan SDF dalam dilema strategis. Bertahan tanpa kompromi berisiko memicu ofensif besar, sementara konsesi politik dapat menggerus basis kekuasaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

    Bagi Damaskus, momentum di Deir Ezzour adalah peluang langka untuk mengembalikan kedaulatan negara atas wilayah timur laut. Namun langkah tergesa tanpa perhitungan juga berisiko memicu konfrontasi regional yang lebih luas.

    Dengan negosiasi yang masih menggantung, masa depan Raqqa dan Hasakah berada di persimpangan. Stabilitas yang tampak rapuh saat ini bisa runtuh dengan cepat jika keseimbangan militer dan politik berubah.

    Timur laut Suriah pun kembali menjadi panggung utama perebutan pengaruh, di mana nasib kota-kota besar ditentukan bukan hanya oleh senjata, tetapi juga oleh loyalitas suku, tekanan ekonomi, dan kegagalan diplomasi.

    Baca selanjutnya

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Aneka

    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita