Posisi Presiden Ashraf Ghani kini menjadi sulit karena mulai ditinggalkan oleh para pengikutnya.
Jika dilihat dari politik Afghanistan dua tahun belakangan Ashraf Ghani telah memainkan peran konpromi kepada semua pihak yang bertikai di negaranya.
Di satu sisi, dia harus berurusan dengan Taliban, namun di pihak lain timnya tidak solid. Banyak yang ingin menggantikannya di tengah jalan.
Salah satu yang membuat kecewa Ashraf Ghani adalah sikap AS yang tidak mengajak pemerintah Ghani dalam KTT Damai dengan Taliban.
Di lain sisi, bawahannya yang kebanyakan eks Aliansi Utara tidak berani menegur atau setidaknya tidak sukses mendorong AS agar mengikutkan pemerintah dalam proses tersebut. (Baca selanjutnya)
Padahal sebelumnya proses damai dengan Taliban dilakukan dalam berbagai level. Antara partai politik dengan Taliban dan antara pemerintah dengan Taliban yang kemudian dipotong oleh AS.
Saat Taliban dan pemerintah akhirnya deadlock dan suasana menjurus ke perang, politisi eks Aliansi Utara bukannya melunak dan berkompromi dengan keadaan.
Malah memperparah dan membuat posisi militer tidak solid.
Keputusannya untuk akhirnya tidak melawan saat Taliban memasuki Kabul merupakan salah satu cara untuk mengurangi korban jiwa.
Ashraf Ghani tidak sedang dalam posisi seperti Bashar Al Assad yang mau mengorbankan semuanya termasuk rakyatnya di saat para politisi eks Aliansi Utara sibuk mendorongnya masuk jebakan agar mengundurkan diri.
Sampai saat ini, Ashraf Ghani belum mengeluarkan pernyataan mengundurkan diri walau Taliban juga menginginkan hal yang sama. Karena jika Ghani mengundurkan diri, wapres Amrullah Saleh dkk bisa membentuk secara sepihak pemerintahan pengganti.
Beberapa laporan menyebut bahwa Ghani saat ini akhirnya sudah keluar dari Afghanistan setelah diijinkan Taliban. Kemungkinan besar menuju AS.
Dengn tidak menyerahkan kekuasaan kepada pemerintahan transisi dan tidak mengundurkan diri, Ghani memastikan semua kedaulatan pemerintahan masih pada dirinya, sehingga belum bisa ditelikung oleh bawahannya atau elite politik. (Baca selengkapnya)
Sementara itu Taliban sudah memerintahkan pasukannya masuk Kabul untuk menempati posisi pasukan keamanan yang vakum. Tujuannya untuk memastikan keamanan dan kenyamanan warga.
Namun Taliban harus berhati-hati agar tidak terulang kasus Yaman saat Presiden Abdu Rabbuh Mansur Hadi mengundurkan diri lalu mengungsi ke Arab Saudi yang mengklaim masih presiden yang sah.
Begitu juga jika tiba-tiba ada pihak yang mendirikan pemerintahan tandingan jika Ghani akhirnya mengundurkan diri dari pengungsian.
No comments:
Post a Comment