Kawasan Shashiya atau Shanshiya di Mogadishu menyimpan jejak sejarah lintas benua yang jarang dibahas secara luas. Nama kawasan ini diyakini berasal dari kota Shash atau Chach di Asia Tengah, yang kini dikenal sebagai Tashkent, Uzbekistan, menandakan hubungan lama antara Afrika Timur dan dunia Asia Tengah.
Sumber sejarah klasik mencatat bahwa perpindahan penduduk dari Asia Tengah ke wilayah dunia Islam terjadi akibat guncangan besar pada awal abad ke-13. Salah satu peristiwa paling menentukan adalah invasi Mongol yang mengguncang Kekaisaran Khwarazmiah dan menyebabkan runtuhnya struktur politik dan sosial kawasan tersebut.
Invasi Mongol terhadap Khwarazmiah berlangsung cepat dan brutal. Kekaisaran yang sebelumnya membentang luas di Asia Tengah dan Persia runtuh dalam waktu singkat, memaksa penduduk sipil meninggalkan kota-kota mereka untuk menyelamatkan diri.
Sejarawan besar Ibnu Khaldun dalam karyanya Kitab al-‘Ibar mencatat bahwa penduduk kota Chach diperintahkan untuk mengungsi sekitar tahun 1207–1208. Perintah evakuasi itu dikeluarkan oleh penguasa Khwarazmiah, Qutb al-Din Muhammad II, ketika pasukan Kara Khitan yang dipimpin Küchlüg Khan bergerak menuju wilayah tersebut.
Chach berada tepat di jalur pasukan invasi, sehingga evakuasi massal dianggap sebagai satu-satunya pilihan. Tidak hanya Chach, dua kota lain di Lembah Fergana, yakni Isfijab dan Kasan, juga mengalami pengosongan penduduk pada periode yang sama.
Menurut catatan Ibnu Khaldun, penduduk dari ketiga kota itu kemudian menyebar ke “negeri-negeri Islam.” Jalur migrasi tersebut akhirnya membawa mereka ke pusat-pusat peradaban utama seperti Baghdad, Kairo, dan Mogadishu.
Penyebutan Mogadishu dalam catatan ini menjadi bukti penting bahwa kota pelabuhan di pesisir Somalia itu telah menjadi tujuan migrasi internasional sejak abad pertengahan. Mogadishu bukan sekadar kota dagang, melainkan bagian dari jaringan dunia Islam yang luas.
Catatan tentang migrasi ini memang tidak muncul dalam semua edisi Kitab al-‘Ibar. Namun, versi lain yang dikutip oleh Sharif ‘Aydarus al-Nadiri al-‘Alawi dalam karya sejarah Somalia menegaskan keberadaan riwayat tersebut.
Masuknya penduduk Asia Tengah dan Persia ke Mogadishu memberi warna baru pada struktur sosial kota itu. Mereka membawa tradisi, pengetahuan, serta ingatan kolektif tentang gejolak besar yang melanda tanah asal mereka.
Kehadiran kelompok pendatang ini juga diduga meninggalkan jejak dalam silsilah dan memori genealogis masyarakat Somalia. Beberapa klan menyimpan nama-nama leluhur yang dianggap berkaitan dengan tokoh-tokoh dari masa invasi Mongol.
Salah satu yang kerap disebut adalah nama Kulub-kaan, yang dikenal sebagai salah satu leluhur dalam klan Ogaden. Nama ini dianggap memiliki kemiripan fonetik dan historis dengan Küchlüg Khan, pemimpin Kara Khitan yang dikenal luas dalam sumber-sumber Islam.
Dugaan bahwa Kulub-kaan merupakan bentuk terdistorsi dari Küchlüg Khan menunjukkan bahwa masyarakat Somalia pada masa itu memiliki pengetahuan tentang invasi Mongol. Ingatan tersebut diwariskan dan diadaptasi dalam konteks lokal.
Silsilah yang menyebut Kulub-kaan Barwaaq Tagaalwaaq Abdirahman hingga kepada Ogaadeen, Absame, Kuumade, Kablalax, Daarood, Ismaaciil, dan Al-Jabarti menempatkan figur ini dalam kerangka sejarah yang lebih luas.
Menariknya, penempatan waktu dalam silsilah tersebut bertepatan dengan abad ke-12 dan awal abad ke-13, masa ketika dunia Islam dilanda gelombang invasi Mongol dan migrasi besar-besaran.
Hal ini memperkuat dugaan bahwa migrasi dari Asia Tengah ke Somalia bukan sekadar mitos, melainkan bagian dari arus sejarah global. Mogadishu tampil sebagai salah satu tujuan aman bagi mereka yang melarikan diri dari kehancuran.
Sebagai kota pelabuhan utama di Samudra Hindia, Mogadishu memiliki koneksi dagang dengan Arab, Persia, dan Asia Selatan. Kondisi ini memungkinkan kota tersebut menyerap pendatang baru dan mengintegrasikan mereka ke dalam masyarakat setempat.
Jejak Asia Tengah di Mogadishu juga tercermin dalam nama tempat, tradisi keilmuan, serta narasi sejarah lokal yang bertahan hingga kini. Kawasan Shashiya menjadi simbol konkret dari hubungan lintas wilayah tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sejarah Somalia tidak terisolasi dari dinamika dunia. Sebaliknya, wilayah Tanduk Afrika menjadi bagian dari arus besar peristiwa Eurasia.
Invasi Mongol yang mengguncang Asia Tengah ternyata memiliki dampak hingga ke pesisir Afrika Timur. Migrasi akibat kehancuran Khwarazmiah menghubungkan Tashkent, Baghdad, Kairo, dan Mogadishu dalam satu jalur sejarah.
Dengan demikian, kisah Kulub-kaan, Shashiya, dan migrasi Asia Tengah ke Mogadishu menegaskan bahwa Somalia memiliki akar sejarah global yang dalam. Sejarah ini menempatkan Mogadishu bukan di pinggiran, melainkan di simpul penting peradaban dunia Islam abad pertengahan.




No comments:
Post a Comment