Militer Suriah kembali menjadi sorotan seiring berlanjutnya dinamika konflik di wilayah timur dan utara negara itu, khususnya dalam menghadapi Pasukan Demokratik Suriah atau SDF. Meski Damaskus secara formal masih memegang legitimasi negara, realitas di lapangan menunjukkan adanya sejumlah kelemahan struktural dan operasional yang membatasi ruang gerak pasukan pemerintah. Kelemahan-kelemahan ini menjadi faktor penting yang menjelaskan mengapa Suriah kerap kesulitan mengonsolidasikan wilayah yang disengketakan.
Salah satu persoalan paling krusial terletak pada keterbatasan kemampuan divisi mekanik militer Suriah. Dalam berbagai operasi, pasukan pemerintah terlihat sangat bergantung pada infrastruktur yang sudah ada, khususnya jembatan dan jalur logistik utama. Ketika SDF memilih taktik menghancurkan jembatan atau akses sungai, laju pasukan Suriah kerap terhenti total.
Keterbatasan ini mencerminkan lemahnya kapasitas teknik tempur, seperti pembangunan jembatan darurat, ponton, atau sarana lintas sungai di bawah tekanan tempur. Akibatnya, pasukan Suriah tidak mampu melakukan manuver cepat atau mengejar mundurnya SDF. Situasi ini memberi keuntungan strategis bagi SDF yang menguasai medan dan memilih waktu penghancuran infrastruktur secara presisi.
Selain masalah teknis, kekurangan manpower menjadi tantangan besar yang tak bisa diabaikan. Setelah lebih dari satu dekade perang, militer Suriah mengalami kelelahan struktural akibat korban, desertir, dan keterbatasan rekrutmen. Jumlah pasukan aktif tidak lagi sebanding dengan luas wilayah yang harus diamankan.
Kondisi ini membuat unit-unit Suriah mudah kewalahan ketika menghadapi serangan SDF yang bersifat mobile dan simultan di berbagai titik. Dalam banyak kasus, pasukan pemerintah harus bertahan di posisi defensif karena kekurangan personel untuk melakukan operasi ofensif berkelanjutan. Ketimpangan kuantitas ini menjadi salah satu penyebab stagnasi di sejumlah front.
Peran pasukan suku lokal kemudian muncul sebagai faktor penyeimbang yang krusial. Di banyak wilayah timur, pasukan suku membantu menutup celah kekurangan personel militer reguler. Tanpa dukungan mereka, tekanan dari SDF berpotensi jauh lebih berat bagi Damaskus.
Namun, ketergantungan pada kekuatan non-reguler juga memiliki risiko tersendiri. Koordinasi komando, disiplin tempur, dan kesinambungan logistik tidak selalu sejalan dengan standar militer nasional. Hal ini menunjukkan bahwa masalah manpower militer Suriah bukan sekadar soal jumlah, tetapi juga regenerasi dan profesionalisme jangka panjang.
Kelemahan lain yang tak kalah penting adalah sensitivitas tinggi Damaskus terhadap dinamika politik global. Setiap langkah militer Suriah tidak hanya dipertimbangkan dari sisi taktis, tetapi juga dari potensi dampak diplomatik dan sanksi internasional. Situasi ini kerap menimbulkan keraguan dalam pengambilan keputusan di medan tempur.
Contoh paling jelas terlihat di Suwayda, ketika Israel melakukan pemboman yang memaksa pasukan Suriah mundur, termasuk serangan yang menyasar Kementerian Pertahanan. Insiden tersebut menunjukkan betapa sempitnya ruang gerak militer Suriah ketika berhadapan dengan aktor yang memiliki perlindungan politik dan militer global. Dalam konteks ini, SDF diuntungkan oleh posisi internasionalnya.
Keraguan strategis ini membuat militer Suriah cenderung memilih pendekatan defensif dan menahan diri, bahkan ketika secara militer ada peluang untuk bertindak lebih tegas. Akibatnya, inisiatif sering kali jatuh ke tangan lawan. Dalam konflik modern, kehilangan inisiatif berarti kehilangan momentum.
Di luar faktor-faktor tersebut, kemampuan pertahanan udara militer Suriah juga masih jauh dari ideal. Sistem anti udara yang dimiliki sebagian besar merupakan warisan lama dan belum sepenuhnya mampu menghadapi ancaman modern. Serangan udara presisi dan pelanggaran wilayah udara masih sering terjadi tanpa respons efektif.
Ancaman drone menjadi persoalan baru yang semakin mendesak. SDF dan aktor lain di kawasan telah memanfaatkan drone pengintai dan drone bersenjata secara luas. Sementara itu, sistem anti-drone militer Suriah masih terbatas, baik dari sisi teknologi maupun jaringan deteksi dini.
Keterbatasan sistem pengintaian dan intelijen taktis juga memperparah keadaan. Banyak operasi SDF dilakukan dengan keunggulan informasi, sementara pasukan Suriah sering kali bereaksi setelah serangan terjadi. Ketimpangan ini membuat Suriah berada satu langkah di belakang dalam setiap eskalasi.
Dari sisi doktrin tempur, militer Suriah masih sangat berorientasi pada perang konvensional. Pola ini kurang efektif menghadapi lawan yang menggunakan taktik asimetris, cepat, dan berbasis komunitas lokal seperti SDF. Adaptasi doktrin menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi pilihan.
Masalah logistik juga menjadi pekerjaan rumah besar. Jalur suplai yang panjang dan rawan gangguan membuat operasi militer sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Ketika logistik terganggu, daya tempur pasukan otomatis menurun drastis.
Pelatihan dan modernisasi peralatan menjadi tantangan berikutnya. Banyak unit masih menggunakan sistem senjata lama dengan keterbatasan perawatan. Tanpa pembaruan teknologi dan pelatihan intensif, kesenjangan kemampuan dengan lawan akan semakin melebar.
Ke depan, reformasi militer menjadi kebutuhan strategis bagi Suriah. Penguatan divisi teknik, peningkatan pertahanan udara, pengembangan sistem anti-drone, serta regenerasi personel harus menjadi prioritas. Tanpa itu, kesulitan menghadapi SDF dan aktor lain akan terus berulang.
Di saat yang sama, Damaskus juga perlu menyeimbangkan antara kepentingan militer dan tekanan politik internasional. Strategi yang terlalu defensif berisiko menggerus wibawa negara di mata publik domestik. Sebaliknya, langkah gegabah bisa memicu konsekuensi geopolitik yang berat.
Kondisi ini menempatkan militer Suriah dalam posisi serba terbatas. Mereka harus bertempur bukan hanya melawan SDF di lapangan, tetapi juga melawan batasan struktural, teknologi, dan politik. Kompleksitas inilah yang membentuk wajah konflik Suriah saat ini.
Meski demikian, pengalaman panjang perang juga memberi pelajaran berharga. Jika mampu melakukan evaluasi jujur dan reformasi bertahap, militer Suriah masih memiliki peluang untuk memperbaiki kapasitasnya. Masa depan stabilitas negara sangat bergantung pada kemampuan Damaskus menjawab kelemahan-kelemahan ini secara sistematis.




No comments:
Post a Comment