• Breaking News

    Thursday, January 15, 2026

    Ironi Sejarah Mesir di Jerusalam


    Sebuah rekaman video dari tahun 1918 kembali menarik perhatian publik, memperlihatkan momen bersejarah ketika pasukan Mesir memasuki Kota Suci Al-Quds (Jerusalem). Peristiwa ini terjadi di tengah runtuhnya kekuasaan Utsmaniyah di kawasan Syam pada akhir Perang Dunia I.

    Pada 9 Desember 1918, satuan dari Angkatan Darat Mesir tercatat memasuki Yerusalem sebagai bagian dari pasukan Sekutu. Kehadiran mereka menandai babak baru dalam sejarah kota yang selama berabad-abad berada di bawah kekuasaan Ottoman.

    Pasukan tersebut merupakan bagian dari kontingen Mesir yang bertempur bersama Inggris melawan Kesultanan Utsmaniyah. Lebih dari 100 ribu tentara Mesir dikerahkan di berbagai front Timur Tengah dalam perang besar tersebut.

    Keterlibatan Mesir dalam perang tidak bisa dilepaskan dari posisinya saat itu sebagai wilayah yang berada di bawah pengaruh kuat Britania Raya. Meski demikian, pasukan Mesir tetap membawa identitas nasional dan religius mereka sendiri ke medan perang.

    Pada masa itu, Mesir berada di bawah pemerintahan Raja Fuad I. Pemerintahannya menandai fase awal Mesir modern, ketika institusi militer mulai memainkan peran regional yang signifikan.

    Rekaman tersebut menunjukkan momen ketika para prajurit Mesir mencapai kawasan Kubah Batu. Begitu tiba di pelataran suci, para tentara segera menghentikan langkah mereka.

    Dengan penuh khidmat, para prajurit menanggalkan sepatu mereka sebelum memasuki area masjid. Tindakan ini mencerminkan penghormatan mendalam terhadap kesucian tempat ibadah Islam ketiga paling suci tersebut.

    Tanpa aba-aba panjang, para tentara kemudian melaksanakan salat di kompleks Al-Haram Al-Sharif. Adegan ini memperlihatkan kontras yang kuat antara realitas perang dan spiritualitas yang melekat pada kota suci.

    Bagi banyak sejarawan, momen ini menegaskan bahwa kehadiran pasukan Mesir di Yerusalem bukan semata-mata bersifat militer. Ada dimensi religius dan simbolik yang menyertai langkah mereka.

    Masuknya pasukan Mesir juga mencerminkan pergeseran kekuasaan besar di Timur Tengah. Kekalahan Utsmaniyah membuka jalan bagi dominasi Inggris dan Prancis di wilayah bekas kekhalifahan.

    Yerusalem sendiri menjadi simbol penting dalam perubahan tersebut. Kota ini bukan hanya pusat agama, tetapi juga objek kepentingan politik dan strategis bagi kekuatan global.

    Keikutsertaan Mesir dalam kampanye militer ini sering kali terlupakan dalam narasi besar Perang Dunia I. Padahal kontribusi personel dan logistik Mesir tergolong signifikan.

    Rekaman tahun 1918 ini memberi perspektif berbeda tentang peran tentara Arab dan Muslim dalam konflik global. Mereka tidak hanya menjadi objek sejarah, tetapi juga aktor aktif dalam peristiwa besar dunia.

    Bagi masyarakat Mesir, momen tersebut dikenang sebagai salah satu simbol keterlibatan negara itu dalam urusan kawasan. Kehadiran tentara Mesir di Al-Quds memiliki resonansi emosional hingga kini.

    Sikap para prajurit yang mengutamakan adab dan ibadah di tengah situasi militer juga kerap dijadikan rujukan moral. Adegan melepas sepatu sebelum salat dipandang sebagai pesan kuat tentang penghormatan terhadap tempat suci.

    Dalam konteks Yerusalem modern, video ini kembali relevan karena memperlihatkan wajah kota pada masa transisi sejarah. Kota tersebut sedang bergerak dari satu era kekuasaan ke era lain.

    Peristiwa 1918 juga menandai awal periode mandat asing yang akan membentuk konflik berkepanjangan di Palestina. Masa depan kota suci mulai ditentukan oleh kekuatan eksternal.

    Bagi sejarawan Timur Tengah, masuknya pasukan Mesir ke Yerusalem merupakan detail penting yang sering terlewatkan. Ia memperkaya pemahaman tentang dinamika regional saat itu.

    Rekaman ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Al-Quds selalu berada di persimpangan antara iman, kekuasaan, dan geopolitik. Setiap pasukan yang memasukinya membawa cerita dan makna tersendiri.

    Lebih dari seabad kemudian, gambar-gambar tersebut masih berbicara lantang. Ia merekam bukan hanya kemenangan militer, tetapi juga ekspresi iman di tengah pergolakan sejarah.

    Momen tentara Mesir bersujud di dekat Kubah Batu pada 1918 pun kini dikenang sebagai salah satu potret langka ketika perang, politik, dan spiritualitas bertemu dalam satu bingkai sejarah.

    Mesir, Yerusalem, dan Ironi Sejarah

    Pada 9 Desember 1918, pasukan Mesir memasuki Yerusalem dengan semangat patriotik dan religius. Mereka adalah tentara Mesir di bawah pemerintahan Raja Fuad I yang berperang bersama Inggris melawan Kesultanan Utsmaniyah, tanpa menyadari konsekuensi geopolitik jangka panjang dari kemenangan mereka.

    Ketika para prajurit itu menunaikan salat di pelataran Kubah Batu, melepas sepatu mereka sebagai penghormatan terhadap kesucian tempat itu, mungkin tidak terpikirkan bahwa wilayah yang mereka “bebaskan” suatu saat akan menjadi bagian dari negara baru bernama Israel.

    Peristiwa 1918 menandai berakhirnya kekuasaan Ottoman di Palestina, namun nasib wilayah itu tidak lagi berada di tangan Mesir. Inggris, sebagai sekutu perang, memiliki pengaruh besar dalam menentukan masa depan politik kawasan tersebut.

    Dekade berikutnya, Inggris dan sekutunya secara politis memanfaatkan mandat internasional untuk membentuk batas-batas baru. Palestina dibagi dan didirikan negara Israel pada 1948, tanpa keterlibatan langsung Mesir dalam proses diplomasi tersebut.

    Ironi sejarah berlanjut setengah abad kemudian ketika Mesir mengalami krisis lain: nasionalisasi Terusan Suez pada 1956. Keputusan Presiden Gamal Abdel Nasser memicu reaksi internasional yang dramatis.

    Dalam peristiwa yang dikenal sebagai Krisis Suez, Inggris dan Perancis bekerja sama dengan Israel untuk menyerang Mesir. Operasi militer ini bertujuan merebut kembali kendali terusan dan menekan kekuatan Mesir di kawasan.

    Pasukan Mesir yang dahulu berperang di Yerusalem, kini menyaksikan negaranya sendiri diinvasi oleh bekas sekutu Inggris yang dulu mereka bantu dalam perang melawan Ottoman. Situasi ini menimbulkan paradoks sejarah yang tajam.

    Israel menyerbu Semenanjung Sinai sebagai bagian dari operasi militer bersama Inggris dan Perancis, yang mengubah lanskap politik Timur Tengah. Mesir harus menghadapi kenyataan pahit bahwa sekutu lama bisa menjadi lawan strategis dalam konflik baru.

    Sejarah ini menyoroti bagaimana pasukan Mesir pada 1918 mungkin tak pernah menyangka bahwa perjuangan mereka untuk mengusir Ottoman hanya menjadi bab pertama dalam rangkaian konflik panjang. Dampak geopolitik, aliansi, dan nasionalisme asing membentuk nasib wilayah yang mereka kuasai.

    Ironi ini juga menjadi pelajaran tentang keterbatasan kontrol nasional dalam konteks global. Apa yang diperjuangkan dengan darah dan iman bisa beralih tangan karena kepentingan kekuatan besar, meninggalkan sejarah yang penuh kontradiksi bagi Mesir dan wilayah Timur Tengah.

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Aneka

    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita