Dewan Konsultatif Nasional atau National Consultative Council (NCC) Somalia kerap dipandang sebagai forum politik khas negara pascakonflik, namun dalam praktiknya memiliki kemiripan dengan berbagai mekanisme kerja sama regional di Timur Tengah.
Secara fungsi, NCC dapat disejajarkan dengan pertemuan Dewan Kerja Sama Teluk atau Gulf Cooperation Council (GCC), meski berada pada level yang berbeda dan dengan konteks politik yang tidak sama.
Seperti GCC, NCC menjadi ruang koordinasi tingkat tinggi bagi para pemimpin, dalam hal ini presiden federal Somalia dan para presiden negara bagian, untuk membahas isu strategis seperti keamanan, kedaulatan, dan arah kebijakan bersama.
Keduanya sama-sama tidak menjalankan fungsi pemerintahan harian, melainkan berperan sebagai forum konsensus politik yang mempertemukan para pengambil keputusan tertinggi.
Namun perbedaannya terletak pada tingkat kedaulatan para anggotanya, karena GCC terdiri dari negara-negara berdaulat penuh, sementara NCC menyatukan entitas negara bagian di bawah satu negara federal.
Dengan kata lain, NCC lebih mencerminkan mekanisme konsolidasi internal, sedangkan GCC merupakan wadah kerja sama antarnegara yang setara secara hukum internasional.
Dalam hal dinamika pertemuan, NCC juga memiliki kemiripan dengan Konferensi Tingkat Tinggi Liga Arab, di mana para kepala negara atau pemerintahan berkumpul untuk menyepakati sikap politik bersama.
Seperti KTT Liga Arab, keputusan NCC umumnya bersifat politis dan normatif, berupa pernyataan sikap, penegasan prinsip, dan komitmen kolektif, bukan keputusan teknokratis yang langsung mengikat.
Perbedaannya, Liga Arab bergerak dalam spektrum regional lintas negara, sementara NCC beroperasi dalam kerangka negara tunggal dengan latar konflik domestik dan federalisme yang belum sepenuhnya matang.
NCC juga kerap digunakan sebagai panggung untuk menunjukkan persatuan nasional, mirip dengan KTT Liga Arab yang sering dimanfaatkan untuk memperlihatkan solidaritas dunia Arab di tengah krisis regional.
Jika dibandingkan dengan Presidential Leadership Council (PLC) Yaman, NCC memiliki kemiripan sebagai forum kolektif yang lahir dari situasi politik transisional.
PLC Yaman dibentuk sebagai badan kepemimpinan kolektif yang menggantikan peran presiden, sedangkan NCC Somalia tidak menggantikan kepala negara, melainkan mendampingi dan mengoordinasikan hubungan pusat-daerah.
Di Yaman, PLC memegang kewenangan eksekutif langsung, termasuk komando militer dan pengambilan keputusan negara, sementara NCC lebih bersifat konsultatif dan koordinatif.
Perbedaan mendasar ini membuat NCC lebih fleksibel, tetapi juga lebih bergantung pada kemauan politik para anggotanya dalam menjalankan kesepakatan.
Kemiripan lain dapat dilihat dengan mekanisme pertemuan para emir di Uni Emirat Arab saat memilih dan mengangkat presiden federal.
Di UEA, para penguasa emirat berkumpul dalam Dewan Tertinggi Federal untuk memilih presiden dan wakil presiden, mencerminkan tradisi musyawarah elite dalam sistem federal monarki.
NCC Somalia menunjukkan pola serupa dalam hal pertemuan para pemimpin wilayah untuk mencapai konsensus nasional, meski berlangsung dalam sistem republik dan bukan monarki.
Perbedaannya, pertemuan para emir UEA memiliki dasar konstitusional yang sangat mapan dan hasilnya bersifat final serta mengikat, sedangkan keputusan NCC sering kali bersifat politik dan bergantung pada implementasi lanjutan.
Selain itu, UEA memiliki stabilitas internal yang tinggi, sehingga musyawarah elite berjalan relatif tertutup dan cepat, sementara NCC berlangsung di tengah dinamika keamanan dan politik yang kompleks.
Meski demikian, keberadaan NCC menandai upaya Somalia membangun tradisi konsultasi kolektif yang menyerupai praktik di kawasan Teluk dan dunia Arab.
Dalam konteks ini, NCC dapat dipahami sebagai adaptasi lokal Somalia atas model-model musyawarah politik regional, disesuaikan dengan realitas federalisme dan rekam jejak konflik berkepanjangan.
Ke depan, efektivitas NCC akan sangat ditentukan oleh konsistensi pertemuan, kepatuhan terhadap kesepakatan, serta kemampuannya menjembatani kepentingan pusat dan negara bagian.
Dengan peran tersebut, NCC berpotensi menjadi pilar konsolidasi negara Somalia, sebagaimana GCC, Liga Arab, PLC Yaman, dan Dewan Tertinggi Federal UEA memainkan perannya masing-masing dalam konteks politik yang berbeda.
Sistem National Consultative Council (NCC) Somalia memiliki sejumlah kesamaan dengan model presidensi kolektif di Bosnia dan Herzegovina, terutama dalam hal penekanan pada kepemimpinan bersama dan mekanisme konsensus di tengah masyarakat yang terfragmentasi. Seperti presidensi tiga orang di Bosnia yang mewakili kelompok etnis utama, NCC juga mempertemukan para pemimpin wilayah dan pusat untuk menjaga keseimbangan politik serta mencegah dominasi satu pihak dalam pengambilan keputusan strategis.
Namun, perbedaan mendasarnya terletak pada posisi konstitusional. Presidensi Bosnia merupakan lembaga eksekutif tertinggi negara yang secara formal memegang kewenangan kenegaraan, termasuk hubungan luar negeri dan komando militer, sementara NCC Somalia tidak menggantikan peran presiden federal. NCC bersifat konsultatif dan koordinatif, sehingga keputusan akhirnya tetap berada di tangan lembaga eksekutif dan parlemen federal.
Dari sisi kepemimpinan, NCC justru lebih menyerupai Dewan Raja-Raja Malaysia, di mana para penguasa wilayah berkumpul untuk membahas isu nasional dan memberikan legitimasi kolektif terhadap arah negara. Kesamaan ini terlihat pada budaya musyawarah elite dan pentingnya konsensus antar-pemimpin daerah sebagai dasar stabilitas politik nasional.
Perbedaannya, Dewan Raja-Raja Malaysia memiliki mekanisme rotasi yang jelas dalam memilih Yang di-Pertuan Agong sebagai kepala negara untuk masa jabatan tertentu. Sistem rotasi tersebut menciptakan rasa kesetaraan antarnegara bagian monarki dan memperkuat legitimasi institusional. Di NCC Somalia, tidak terdapat mekanisme rotasi kepemimpinan, karena posisi ketua secara otomatis dipegang oleh presiden federal yang sedang menjabat.
Dengan demikian, NCC dapat dipahami sebagai gabungan antara model presidensi kolektif ala Bosnia dan sistem musyawarah para raja di Malaysia, tetapi tanpa rotasi kekuasaan. Ketiadaan rotasi ini membuat NCC lebih stabil secara struktur, namun juga menempatkan tanggung jawab besar pada presiden federal untuk menjaga keseimbangan kepentingan seluruh negara bagian dalam setiap keputusan strategis.




No comments:
Post a Comment