• Breaking News

    Friday, January 16, 2026

    Apakah Perlu Forum Multilateral Islam Mirip CGI?


    Sejarah membuktikan bahwa mekanisme bantuan terkoordinasi dapat membawa perubahan besar bagi negara yang sedang krisis. Indonesia, misalnya, pernah mendapatkan manfaat signifikan dari IGGI dan CGI, forum donor internasional yang berhasil menyatukan negara-negara donor untuk menyalurkan bantuan pembangunan. Keberhasilan ini menjadi contoh nyata bahwa bantuan yang tersentralisasi dan terkoordinasi dapat mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

    IGGI dibentuk pada 1967 sebagai forum konsultatif pemerintah Indonesia dengan para donor internasional, termasuk Jepang, Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan lembaga multilateral. Forum ini bertujuan menyelaraskan bantuan yang masuk agar sesuai dengan prioritas pembangunan nasional, sehingga efisiensi dan transparansi tercapai. IGGI kemudian digantikan oleh CGI pada 1992, yang mempertahankan model koordinasi donor secara modern dengan peran signifikan World Bank sebagai sekretariat teknis.

    Keberhasilan IGGI dan CGI tidak lepas dari stabilitas politik Indonesia pasca Orde Baru. Pemerintah mampu menampilkan legitimasi internasional, merumuskan rencana pembangunan jangka menengah dan panjang, serta menyusun rencana keuangan yang jelas. Para donor yakin bahwa bantuan mereka akan dialokasikan secara efektif dan diawasi secara transparan. Kondisi inilah yang jarang ditemui di banyak negara yang kini membutuhkan bantuan besar, termasuk Yaman, Afghanistan, dan Somalia.

    Ketika Uni Soviet bubar pada awal 1990-an, Rusia dan negara-negara bekas Soviet segera membentuk CIS (Commonwealth of Independent States). Organisasi ini menjadi platform untuk saling membantu di bidang ekonomi, politik, dan keamanan di antara bekas negara bagian Uni Soviet. Melalui CIS, negara-negara tersebut dapat menstabilkan perekonomian, menjaga aliran energi, dan memfasilitasi kerjasama perdagangan regional.

    Fenomena ini menunjukkan bahwa forum multilateral yang solid bisa muncul ketika ada kepentingan bersama dan rasa saling ketergantungan antarnegara. Keberhasilan CIS sekaligus menggarisbawahi pentingnya koordinasi regional untuk menghadapi krisis ekonomi dan politik. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa negara-negara Islam atau Turki, sebagai negara dengan pengaruh regional, belum menciptakan mekanisme serupa untuk negara-negara yang pernah menjadi bagian dari wilayah pengaruhnya, seperti Somalia atau Yaman.

    Turki, meskipun aktif dalam diplomasi dan proyek ekonomi di Afrika Timur dan Timur Tengah, belum membentuk forum donor terkoordinasi yang menyatukan banyak negara Islam untuk menolong negara-negara seperti Somalia atau Yaman. Bantuan lebih banyak berbentuk proyek bilateral atau kemitraan ekonomi kecil, tanpa adanya mekanisme konsolidasi multilateral yang dapat menyalurkan dana secara efisien dan transparan.

    Padahal, model CGI yang melibatkan berbagai negara donor dengan kesepakatan terpusat terbukti efektif untuk pembangunan jangka menengah dan panjang. Di Indonesia, CGI mampu mengkoordinasikan pinjaman lunak, hibah, dan dukungan teknis untuk membiayai proyek infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan, sehingga membangun fondasi ekonomi yang stabil. Model ini bisa dijadikan acuan untuk negara Islam yang mengalami konflik atau keruntuhan ekonomi.

    Yaman, misalnya, menghadapi ketidakstabilan sejak 2014 akibat perang sipil. Pendapatan negara terfragmentasi, ketergantungan pada bantuan Saudi meningkat, dan konflik internal antara PLC dan STC memperparah krisis ekonomi. Bantuan bilateral terbatas tidak cukup untuk mengembalikan fungsi pemerintahan dan infrastruktur dasar secara menyeluruh. Forum donor multilateral Islam, mirip CGI, bisa menjadi solusi untuk menyalurkan bantuan yang terkoordinasi.

    Afghanistan pasca Taliban juga menghadapi dilema serupa. Walau beberapa sektor berhasil berjalan, negara ini masih bergantung pada bantuan internasional untuk menyokong kesehatan, pendidikan, dan logistik dasar. Bantuan yang terfragmentasi seringkali tersumbat oleh ketidakpercayaan antar donor, perbedaan regulasi, dan risiko politik. Mekanisme seperti CGI dapat membantu mengurangi hambatan ini.

    Iran, meskipun lebih stabil secara internal dibanding Yaman atau Afghanistan, menghadapi sanksi internasional yang menghambat investasi dan aliran bantuan. Forum multilateral Islam yang melibatkan perbankan syariah dan negara-negara OKI bisa membuka jalur resmi untuk membantu Iran membangun sektor ekonomi strategis, tanpa melanggar sanksi yang berlaku.

    Keuntungan utama membentuk CGI versi negara Islam adalah efisiensi, transparansi, dan keberlanjutan bantuan. Dengan forum semacam ini, negara donor bisa bersepakat mengenai prioritas proyek, jadwal pencairan dana, serta mekanisme evaluasi dan pelaporan. Hal ini meningkatkan kepercayaan publik, pemerintah penerima, dan lembaga internasional terhadap penggunaan dana.

    Forum semacam ini juga akan mengurangi praktik bantuan yang bersifat sporadis dan terfragmentasi, sehingga mengurangi risiko pemborosan dan korupsi. Bantuan yang tersentralisasi dan diawasi secara kolektif akan lebih efektif dalam mencapai target pembangunan, seperti infrastruktur, energi, pendidikan, dan kesehatan.

    Lebih dari itu, forum multilateral juga dapat menjadi alat diplomasi dan stabilisasi politik. Negara-negara penerima akan merasa didukung secara kolektif, bukan hanya tergantung pada satu donor, sehingga ketergantungan politik pada negara tertentu berkurang. Ini bisa mengurangi ketegangan internal dan memperkuat legitimasi pemerintah pusat.

    Pengalaman CIS dan CGI menunjukkan bahwa forum terkoordinasi harus memiliki aturan main yang jelas, sekretariat profesional, dan forum konsultatif reguler untuk menyelaraskan kepentingan semua pihak. Tanpa mekanisme seperti ini, bantuan akan tetap parsial dan tidak berkesinambungan.

    Negara-negara Islam dapat memanfaatkan lembaga yang sudah ada, seperti Islamic Development Bank (IsDB), OKI, dan lembaga perbankan syariah, untuk membangun forum CGI versi Islam. Dana yang dikumpulkan bisa dikelola secara profesional, diinvestasikan, dan disalurkan sesuai kebutuhan pembangunan di negara-negara yang rawan krisis.

    Selain itu, forum ini dapat mencakup mekanisme deposit jangka panjang dan pinjaman lunak, mirip instrumen CGI di Indonesia. Dana yang disalurkan bisa dipakai untuk membiayai proyek strategis, dengan pengembalian di masa depan, sehingga forum menjadi berkelanjutan.

    Pendekatan ini juga memberi peluang bagi negara-negara Islam untuk membangun solidaritas ekonomi dan integrasi regional. Negara-negara donor dan penerima bisa saling belajar, berbagi pengalaman teknis, dan menciptakan proyek-proyek yang berdampak luas.

    Kehadiran CGI versi negara Islam juga dapat menumbuhkan kepercayaan investor, karena dana donor bersifat transparan, terkontrol, dan dikelola sesuai standar internasional. Hal ini akan membuka akses bagi investasi swasta dan lembaga keuangan Islam untuk berpartisipasi dalam pembangunan.

    Tanpa forum semacam ini, bantuan sering kali terhambat oleh rivalitas politik, fragmentasi wilayah, dan kepentingan donor yang berbeda-beda. Negara penerima tetap akan mengalami krisis struktural, meski jumlah bantuan nominal besar.

    Dengan demikian, pengalaman sejarah seperti IGGI, CGI, dan CIS memberikan pelajaran penting: solidaritas terkoordinasi dan manajemen profesional adalah kunci keberhasilan bantuan pembangunan. Untuk Yaman, Afghanistan, Iran, dan Somalia, pembentukan forum multilateral Islam bisa menjadi jalan keluar untuk mengatasi krisis ekonomi dan membangun stabilitas jangka panjang.


    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Aneka

    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita