• Breaking News

    Friday, January 16, 2026

    Riwayat Hyder Ali, Ancaman Asia untuk Hegemoni Inggris

    Nama Hyder Ali mungkin tidak sepopuler Napoleon atau Frederick Agung dalam buku sejarah arus utama Barat. Namun pada abad ke-18, penguasa Kerajaan Mysore ini justru menjadi salah satu tokoh paling ditakuti dan paling dihormati oleh Eropa, terutama oleh Imperium Inggris.

    Hyder Ali muncul sebagai figur sentral Asia Selatan ketika Inggris tengah berada di puncak ekspansi kolonialnya. Dalam lima kampanye militer besar, ia berulang kali memukul mundur pasukan Inggris dan sekutunya, sesuatu yang jarang terjadi pada masa ketika senjata dan organisasi militer Eropa dianggap tak tertandingi.

    Kemenangannya tidak hanya berdampak lokal di India, tetapi bergema hingga lintas benua. Di Amerika, tokoh-tokoh revolusioner menyebut namanya dengan penuh hormat. Bahkan disebutkan bahwa George Washington memberikan penghormatan simbolik atas keberhasilannya melawan Inggris.

    Di kalangan kaum revolusioner Amerika, puisi-puisi tentang Hyder Ali dinyanyikan sebagai simbol perlawanan terhadap imperialisme Inggris. Sebuah kapal perang revolusioner Amerika bahkan dikabarkan pernah dinamai dengan merujuk pada namanya, menandakan resonansi global sosok ini.

    Eropa sendiri terbelah antara ketakutan dan kekaguman. Media dan penulis dari Italia, Jerman, Prancis, hingga Denmark menggambarkan Hyder Ali sebagai orang paling berani di Asia, dengan pasukan paling modern tidak hanya di Asia, tetapi juga Afrika.

    Bagi Polandia, Hyder Ali menjadi bukti hidup bahwa senjata dan taktik Eropa bukanlah sesuatu yang mutlak tak terkalahkan. Narasi ini mengguncang mitos superioritas militer Barat yang selama puluhan tahun nyaris tidak pernah dipertanyakan.

    Portugal, yang juga pernah berhadapan dengannya, memuji Hyder Ali sebagai diplomat ulung. Ironisnya, mereka justru mengejek Inggris karena dianggap gagal memahami dan menandingi kecerdikan politik serta militer penguasa Mysore tersebut.

    Di Inggris sendiri, nama Hyder Ali berubah menjadi simbol ketakutan publik. Para ibu konon menggunakan namanya untuk menakuti anak-anak agar segera tidur, sementara para pialang di London menyebut namanya dalam bisik-bisik pasar karena dampak perang Mysore terhadap perdagangan dan keuangan.

    Seorang penjelajah Eropa mencatat bahwa Hyder Ali telah menghancurkan stereotip lama tentang Asia. Menurutnya, penguasa Mysore itu membuktikan bahwa bangsa Asia mampu membangun organisasi militer yang disiplin, terstruktur, dan sangat canggih.

    Kekaguman massal juga tercatat di Istanbul. Utusan Inggris melaporkan bahwa sekitar 200.000 warga Ottoman, bersama diplomat asing, terpukau saat menyaksikan latihan baris-berbaris pasukan Hyder Ali yang sangat rapi dan modern.

    Bahkan musuh-musuhnya tidak segan memberikan julukan besar. Inggris menyebutnya sebagai “Our Scourge in the East” dan “Alexander of the East,” menyandingkannya dengan tokoh-tokoh legendaris seperti Timur, Genghis Khan, Attila the Hun, hingga Frederick Agung dari Prusia.

    Dalam catatan militernya, Hyder Ali tidak hanya mengalahkan Inggris, tetapi juga Belanda dan Portugis. Yang lebih mencolok, pujian justru datang dari pihak-pihak yang pernah merasakan kekalahannya secara langsung.

    Dalam satu periode perang melawan Inggris, pasukan Hyder Ali menimbulkan sekitar 24.000 korban jiwa hanya dalam waktu delapan hingga sembilan bulan. Dalam satu pertempuran singkat, korban Inggris bahkan mencapai 1.800 orang dalam waktu delapan jam.

    Ia tidak hanya mengalahkan pasukan Perusahaan Hindia Timur Inggris, tetapi juga resimen kerajaan Inggris yang saat itu dianggap sebagai unit tempur terbaik di dunia. Fakta ini menjadikan kekalahannya sebagai trauma strategis bagi London.

    Keunggulan Hyder Ali tidak hanya terletak pada keberanian, tetapi juga teknologi. Ia mengembangkan roket militer berbahan besi yang jauh melampaui teknologi roket Inggris saat itu, senjata yang kelak menginspirasi pengembangan roket modern Eropa.

    Dalam konteks geopolitik modern, Hyder Ali kerap dianalogikan dengan kekuatan Asia yang menantang dominasi Barat. Jika Inggris abad ke-18 disamakan dengan Amerika Serikat saat ini, maka analogi Hyder Ali lebih mendekati Tiongkok ketimbang Korea Utara.

    Seperti Tiongkok, Hyder Ali membangun kekuatan melalui teknologi mandiri, organisasi militer modern, dan pengaruh ekonomi yang mampu mengguncang pasar global. Namanya saja sudah cukup untuk memengaruhi sentimen keuangan di London, mirip dengan bagaimana kebijakan Beijing hari ini memengaruhi Wall Street.

    Sebaliknya, analogi dengan Korea Utara dinilai kurang tepat karena Hyder Ali bukan pemimpin yang terisolasi. Ia aktif membangun diplomasi dengan Prancis dan Ottoman, mengirim utusan ke Istanbul, serta menjadi aktor global yang diperhitungkan.

    Perbedaan utamanya dengan kekuatan besar modern adalah keberanian Hyder Ali untuk terjun langsung dalam konfrontasi militer terbuka melawan negara adidaya. Sebuah sikap yang kini dihindari demi stabilitas ekonomi global.

    Dengan demikian, Hyder Ali dapat dipahami sebagai versi abad ke-18 dari kekuatan Asia yang sedang bangkit. Ia bukan sekadar panglima perang regional, melainkan simbol bahwa dominasi Barat selalu memiliki batas ketika berhadapan dengan teknologi, organisasi, dan tekad politik yang setara.

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Aneka

    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita