• Breaking News

    Sunday, February 8, 2026

    Ujian Pertama Solidaritas Suriah

    Hujan turun tanpa aba-aba, membasahi tanah Suriah yang selama bertahun-tahun retak oleh kemarau. Di banyak tempat, air disambut sebagai rahmat yang lama ditunggu, seolah langit akhirnya mengingat negeri yang kehausan. Namun di sudut lain, hujan berubah menjadi duka yang sunyi.

    Di Idlib, air meluap tanpa ampun, menyapu jalan tanah dan menerobos tenda-tenda pengungsian. Kamp-kamp yang rapuh tak sanggup menahan derasnya arus, menjadikan malam sebagai saksi kepanikan dan kehilangan. Anak-anak terjaga, orang tua menggigil, dan lumpur menjadi selimut yang tak diundang.

    Kabar banjir itu menempuh perjalanan panjang, menyeberangi kota-kota yang juga belum sepenuhnya pulih. Dari Raqqa hingga Deir Ezzour, pesan-pesan singkat beredar, memanggil nurani yang lama teruji oleh perang. Di balik luka masing-masing, ada dorongan untuk bergerak.

    Raqqa dan Deir Ezzour baru saja menapaki babak baru setelah keluar dari cengkeraman SDF. Kota-kota ini masih belajar bernapas dengan bebas, menata ulang kehidupan yang porak-poranda. Namun ketika Idlib diterpa musibah, mereka memilih menyisihkan lengan untuk membantu sesama.

    Di Deir Ezzour, para pedagang kecil menghentikan hitung-hitungan harian. Koin dan lembaran uang dikumpulkan dalam kotak seadanya, di atas meja kayu yang pernah menjadi saksi kekurangan. Tak banyak yang tersisa, tapi niat itu terasa penuh.

    Para ibu menyiapkan roti kering dan selimut yang sudah menipis warnanya. Mereka tahu rasanya kehilangan atap, rasanya tidur dengan suara hujan sebagai ancaman. Tangan-tangan itu bekerja pelan, seakan takut melukai kenangan sendiri.

    Anak-anak ikut membantu, mengikat karung dan membawa botol air. Di mata mereka, banjir di Idlib adalah cerita jauh yang mendadak dekat. Solidaritas tumbuh tanpa slogan, tanpa pidato, hanya gerak sederhana yang jujur.

    Hujan memang membawa berkah bagi ladang yang lama menunggu air. Tanah yang retak kini menghitam, menjanjikan panen yang sempat dilupakan. Tetapi di beberapa tempat, alam menagih harga yang terlalu mahal.

    Kamp pengungsian di Idlib berdiri di atas harapan yang tipis. Ketika hujan datang berlebihan, harapan itu terendam bersama perabotan seadanya. Yang tersisa adalah doa dan uluran tangan dari saudara jauh.

    Di Raqqa, relawan berkumpul di masjid dan sekolah yang kembali difungsikan. Mereka menyortir bantuan dengan teliti, seakan setiap barang membawa pesan penghiburan. Waktu terasa berjalan lambat, tapi tekad tidak goyah.

    Deir Ezzour menyiapkan konvoi kecil, melewati jalan-jalan yang belum sepenuhnya aman. Setiap kilometer adalah pengingat bahwa damai masih rapuh. Namun langkah tetap diambil, karena diam terasa lebih berat.

    Bagi warga setempat, ini bukan sekadar bantuan kemanusiaan. Ini ujian pertama untuk bergerak bersama setelah lama tercerai oleh garis dan kekuasaan. Menolong Idlib adalah menolong bayangan diri sendiri di masa lalu.

    Tak ada yang bertanya siapa yang berhak atau siapa yang salah. Di hadapan banjir, batas-batas itu mencair. Yang ada hanya sesama warga Suriah, disatukan oleh kehilangan yang serupa.

    Di kamp-kamp Idlib, kedatangan bantuan disambut dengan mata berkaca. Selimut yang kering terasa seperti pelukan. Roti sederhana menjadi tanda bahwa mereka tidak dilupakan.

    Malam kembali turun, hujan mulai reda. Lumpur masih melekat, tapi harapan perlahan muncul. Di antara tenda yang basah, ada cerita tentang Raqqa dan Deir Ezzour yang mengulurkan tangan.

    Ujian ini datang terlalu cepat bagi kota-kota yang baru pulih. Namun justru di situlah maknanya diuji, pada kesediaan berbagi saat diri sendiri belum sepenuhnya utuh. Solidaritas lahir dari kekurangan, bukan kelimpahan.

    Hujan akan pergi, banjir akan surut. Tetapi ingatan tentang siapa yang datang membantu akan tinggal lama. Ia akan diceritakan dari tenda ke tenda, dari kota ke kota.

    Suriah hari ini masih belajar menyembuhkan diri. Setiap musibah membuka luka lama, sekaligus peluang untuk merajut kembali kepercayaan. Dari tangan-tangan sederhana, benang itu mulai ditarik.

    Raqqa dan Deir Ezzour telah melangkah, meski tertatih. Mereka memilih empati sebagai bahasa pertama kebebasan. Pilihan itu mungkin kecil, tapi maknanya besar.

    Di tengah hujan yang ambigu antara berkah dan bencana, warga Suriah menjawab dengan satu hal yang tersisa. Saling menolong, sebagai tanda bahwa kemanusiaan belum tenggelam.

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Aneka

    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita