MASIH tingginya mentalitas 'prasangka' pada organisasi Uni Eropa (UE), membuat Turki mulai pesimis negara tersebut dapat bergabung menjadi anggota. Selama ini UE selalu memberikan berbagai alasan untuk menghambat Turki masuk menjadi anggota tapi tidak pernah menolak secara terang-terangan.
Press TV, Minggu (22/9) melaporkan, menurut sebuah artikel yang diterbitkan di koran Telegraphs London, Sabtu kemaren, Egemen Bagis yang juga menjadi Menteri Urusan UE, mengatakan Ankara mungkin akan hanya bernegosiasi untuk mendapatkan status akses spesial ke UE seperti yang dimiliki Norwegia.
Press TV, Minggu (22/9) melaporkan, menurut sebuah artikel yang diterbitkan di koran Telegraphs London, Sabtu kemaren, Egemen Bagis yang juga menjadi Menteri Urusan UE, mengatakan Ankara mungkin akan hanya bernegosiasi untuk mendapatkan status akses spesial ke UE seperti yang dimiliki Norwegia.
"Dalam jangkan panjang, saya pikir posisi Turki akan berakhir seperti Norwegia. Kami akan mengikuti standar Eropa, menjadi sekutu dekat tapi tidak sebagai anggota," katanya.
"Mereka (UE) harus paham bahwa mereka tidak membakar diri saya dari belakang, mereka menyakiti diri mereka sendiri," kata Bagis.
Dia juga mengharapkan UE dapat tumbuh dengan menjauhkan diri dari mentalitas prasangka dan menerima apa adanya 'bangsa dinamis seperti Ukraina dan Turki'.
Turki mulai negosiasi masuk UE sejak tahun 2005. Tapi, semua itu tidak pernah mengalami kemajuan karena posisi Prancis dan Jerman yang menolak Turki dengan alasan hubungan panas dengan Ciprus.
Paris selalu menjadi penolak utama keanggotaan Turki di Eropa sementara Jerman lebih memilih mencari alasan lainnya seperti pemakaian pasukan, dalam tingkat tertentu, untuk membubarkan aksi demonstrasi di Istanbul, Juni lalu.
Kedua negara juga takut dan beralasan perbedaan budaya Turki dan jumlah populasinya akan membuat negara tersebut sulit diterima berintegrasi dengan UE. Hal ini menjadi sangat aneh karena dalam nilai-nilai yang dipromosikan UE, masalah perbedaan budaya tidak seharusnya menjadi bagian dari diskriminasi.
Juli lalu, Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schaeuble secara terbuka mengungkapkan ketidaksukaan Berlin terhadaap usaha Turki untuk masuk UE. Dia mengatakan, Turki bukan bagian dari Eropa, padahal sejarah mencatat sebaliknya.
Sumber
"Mereka (UE) harus paham bahwa mereka tidak membakar diri saya dari belakang, mereka menyakiti diri mereka sendiri," kata Bagis.
Dia juga mengharapkan UE dapat tumbuh dengan menjauhkan diri dari mentalitas prasangka dan menerima apa adanya 'bangsa dinamis seperti Ukraina dan Turki'.
Turki mulai negosiasi masuk UE sejak tahun 2005. Tapi, semua itu tidak pernah mengalami kemajuan karena posisi Prancis dan Jerman yang menolak Turki dengan alasan hubungan panas dengan Ciprus.
Paris selalu menjadi penolak utama keanggotaan Turki di Eropa sementara Jerman lebih memilih mencari alasan lainnya seperti pemakaian pasukan, dalam tingkat tertentu, untuk membubarkan aksi demonstrasi di Istanbul, Juni lalu.
Kedua negara juga takut dan beralasan perbedaan budaya Turki dan jumlah populasinya akan membuat negara tersebut sulit diterima berintegrasi dengan UE. Hal ini menjadi sangat aneh karena dalam nilai-nilai yang dipromosikan UE, masalah perbedaan budaya tidak seharusnya menjadi bagian dari diskriminasi.
Juli lalu, Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schaeuble secara terbuka mengungkapkan ketidaksukaan Berlin terhadaap usaha Turki untuk masuk UE. Dia mengatakan, Turki bukan bagian dari Eropa, padahal sejarah mencatat sebaliknya.
Sumber
No comments:
Post a Comment