![]() |
ilustrasi |
Selama momen pilkada tersebut terdapat dua tokoh muda yang menggelorakan semangat pilkada damai dan demokratis untuk memberi ruang kepada warga atau pemilih menyuarakan keinginannya dengan bebas.
Keduanya berasal dari organisasi terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
Tokoh pertama adalah pengurus GP Ansor Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Namanya Ust Tarmidzi.
Dengan mengenakan jaket khas Banser, dia memberi pesan pilkada damai melalui saluran Youtube. (baca).
Intinya, pihaknya menolak politik uang dan mendorong terciptanya pilkada damai dengan iklim yang kondusif. Lihat video berikut:
NU di Humbang Hasundutan telah eksis sejak lama. Banyak tokoh NU yang lahir dari kabupaten yang berdiri hasil pemekaran dari Tapanuli Utara ini.
Salah satu contohnya adalah Buya Syeikh Ali Akbar Marbun, Rais Syuriah PBNU yang mendirikan Pesantren Al Kautsar Al Akbar, Lae Toras, Tarabintang Humbang Hasundutan bersama adindanya almarhum Jureman Marbun atau akrab disapa Mahmun Syarif saat studi di Pesantren Musthafawiyah Purba Baru, Mandailing Natal. Keduanya merupakana alumni salah satu pesantren tertua di Sumut itu dan kelahiran Siniang, Pakkat, Humbang Hasundutan.
Tokoh kedua adalah Zulham Hidayah Pardede, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sumatera Utara.
Zulham Pardede merupakan generasi muda yang selalu tampil di berbagai media massa, khususnya ketika dia berkiprah di Tapanuli Selatan. Bila dilihat dari marganya kemungkinan besar dia berasal dari Toba Samosir, Sumatera Utara, sebuah kabupaten yang juga pecahan dari Tapanuli Utara yang kemudia dimekarkan kembali dengan lahirnya Kabupaten Samosir.
"Saya mengajak seluruh masyarakat Sumut agar terlibat aktif dalam menciptakan situasi pilkada yang damai. Proses pilkada ini harus kita jadikan sebagai momentum demokrasi yang membahagiakan dan menguatkan persatuan kita. Segala perbedaan pandangan politik harus dipahami sebagai sebuah proses demokrasi yang harus dihormati. Dengan begitu akan tercipta pilkada yang damai, seperti cita-cita kita semua," dalam sebuah rilis kepada media. (baca selengkapnya)
Di Toba Samosir, terdapat masyarakat persatuan marga Sonak Malela (Napitupulu, Pardede, Marpaung dll) dan Raja Lontung (termasuk Aritonang, Rajagukguk dll) dan lain sebagainya yang menjadi tokoh masyarakat terkemuka, ulama, dai dan pendiri masjid.
Diperkirakan Islam telah berkembang pesat di daerah Tobasa pada abad ke-16 dari Asahan, pada saat yang hampir sama gelombang dai penguasa Tuan Ibrahimsyah (dari Tarusan Pagaruyung kini di Sumatera Barat) datang ke Silindung (Tarutung kini Tapanuli Utara) dan kemudian ke Bakkara (Humbang Hasundutan) sebelum menetap di Barus. Di Barus (termasuk Barus Hulu; Pakkat, Tarabintang dan Parlilitan yang kini masuk Humbang Hasundutan), masyarakat telah mengenal Islam jauh sebelumnya, yakni era perdagangan kalangan Arab di abad ke7-8 M.
Di tengah kontestasi pilkada yang memanas, didominasi buzzer yang tidak hanya dari Sumut tapi dari Jakarta (baca), kedua tokoh ini hadir untuk menyejukkan suasana dan memberi dorongan kepada pemilih, tim sukses dan simpatisan untuk tidak terpancing dengan runcingnya persaingan, khusunya di media sosial. (adm)
Adv: Yuk, Belanja Online di POP Shop
Tokoh kedua adalah Zulham Hidayah Pardede, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sumatera Utara.
Zulham Pardede merupakan generasi muda yang selalu tampil di berbagai media massa, khususnya ketika dia berkiprah di Tapanuli Selatan. Bila dilihat dari marganya kemungkinan besar dia berasal dari Toba Samosir, Sumatera Utara, sebuah kabupaten yang juga pecahan dari Tapanuli Utara yang kemudia dimekarkan kembali dengan lahirnya Kabupaten Samosir.
"Saya mengajak seluruh masyarakat Sumut agar terlibat aktif dalam menciptakan situasi pilkada yang damai. Proses pilkada ini harus kita jadikan sebagai momentum demokrasi yang membahagiakan dan menguatkan persatuan kita. Segala perbedaan pandangan politik harus dipahami sebagai sebuah proses demokrasi yang harus dihormati. Dengan begitu akan tercipta pilkada yang damai, seperti cita-cita kita semua," dalam sebuah rilis kepada media. (baca selengkapnya)
Di Toba Samosir, terdapat masyarakat persatuan marga Sonak Malela (Napitupulu, Pardede, Marpaung dll) dan Raja Lontung (termasuk Aritonang, Rajagukguk dll) dan lain sebagainya yang menjadi tokoh masyarakat terkemuka, ulama, dai dan pendiri masjid.
Diperkirakan Islam telah berkembang pesat di daerah Tobasa pada abad ke-16 dari Asahan, pada saat yang hampir sama gelombang dai penguasa Tuan Ibrahimsyah (dari Tarusan Pagaruyung kini di Sumatera Barat) datang ke Silindung (Tarutung kini Tapanuli Utara) dan kemudian ke Bakkara (Humbang Hasundutan) sebelum menetap di Barus. Di Barus (termasuk Barus Hulu; Pakkat, Tarabintang dan Parlilitan yang kini masuk Humbang Hasundutan), masyarakat telah mengenal Islam jauh sebelumnya, yakni era perdagangan kalangan Arab di abad ke7-8 M.
Di tengah kontestasi pilkada yang memanas, didominasi buzzer yang tidak hanya dari Sumut tapi dari Jakarta (baca), kedua tokoh ini hadir untuk menyejukkan suasana dan memberi dorongan kepada pemilih, tim sukses dan simpatisan untuk tidak terpancing dengan runcingnya persaingan, khusunya di media sosial. (adm)
Adv: Yuk, Belanja Online di POP Shop
No comments:
Post a Comment